//
you're reading...
Pendidikan

Gagalnya Pendidikan

KEGAGALAN PENDIDIKAN, KESALAHAN BERSAMA?

Sejak dimulainya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 di sekolah-sekolah oleh Depdiknas, maka kita perlu melihat gambaran potensi sekolah secara umum yang dapat dijadikan sebagai faktor penentu bagi keberhasilan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi tersebut serta berbagi kendala yang sering muncul dari faktor-faktor tersebut, antara lain :

1. Faktor Organisasi dan Manajemen Sekolah

Karena terbiasa dengan kurikulum lama (kurikulum 1984, 1994, 2004), sekolah kurang berani dalam melakukan usaha-usaha perubahan yang lebih kreatif dan inovatif dalam pengelolaan pendidikan, semua kebijakan sekolah harus selalu didasari acuan dari pusat, dikembangkan manajemen tertutup atau tidak memberdayakan seluruh warga sekolah dan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan pendidikan, sehingga sekolah tidak dikelola secara mandiri.

2. Faktor Tenaga Kependidikan

a. Kepala sekolah

Dalam hal ini kepala sekolah tidak melaksanakan fungsi dan tugasnya secara profesional sebagai top leader dan agent kurikulum, segala kebijakan sekolah diambil secara pribadi menurut pemikiran dan kemauannya sendiri yang sifatnya hanya menguntungkan dan mengamankan posisi jabatannya saja sehingga kepala sekolah lebih senang mengembangkan manajemen tertutup, sehingga dewan guru dan warga sekolah lainnya hanya tahu melaksanakan saja, atau boleh dikatakan sebagai objek penderita. Kepala sekolah kurang berwawasan keilmuan dan pengetahuan terhadap adanya suatu perubahan sehingga sekolah yang dipimpinannya selalu ketinggalan, tidak dapat mensejajarkan dengan kemajuan sekolah lain.

b. Tenaga pendidik

Guru merupakan faktor yang sangat dominan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran walaupun bukan faktor satu-satunya. Bagaimanapun guru diposisikan (sebagai penyampai informasi tunggal atau sebagai faselitator) dalam KBM tetapi keberadaannya tidak mungkin ditiadakan. Akan tetapi persoalannya adalah : a) Adanya sebagian guru yang kurang memahami atau belum memahami sama sekali tentang konsep dari kurikulum berbasis komptensi. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi apabila guru yang bersangkutan belum pernah mendapatkan informasi tentang perubahan kurikulum itu sendiri secara menyeluruh atau sudah pernah mendapatkan informasinya tetapi sepenggal-sepenggal sehingga yang terjadi pada saat pelaksanaan KBM adalah ketidakjelasan kurikulum yang digunakan. b) Karena setiap guru memiliki pola mengajar sendiri-sendiri yang tercermin pada waktu melaksanakan pembelajaran. hal tersebut akan berdampak kepada pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi pada saat KBM yang sudah ditentukan akan tidak berarti apa-apa, apabila guru yang dalam pelaksanaannya masih dipengaruhi oleh pandangannya sendiri tentang mengajar, serta konsep psikologi yang digunakan, atau dengan kata lain mengerti kurikulum tetapi enggan untuk melaksanakan.

c. Tenaga administrasi, laboran, pustakawan, dan staf lainnya

Ketersediaan tenaga administrasi, laboran, pustakawan dan staf lainnya sangat berperan penting bagi kelancaran pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi ini. Namun tidak jarang karena keterbatasan jumlah tenaga administrasi, laboran dan pustakawan ini, akhirnya tugas-tugas tersebut diserahkan kepada guru atau kepada seseorang yang bukan bidangnnya dengan prinsif asal ada petugasnya saja, sehingga yang terjadi adalah semakin menumpuknya tugas guru, pengerjaan tugas yang tidak professional, sehingga semua kegiatan menjadi terbengkalai dan tidak mendukung sekali bagi kelancaran pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi.

3. Faktor siswa

Setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kemampuan dan kecakapan (skill), seperti bakat, kecerdasan,maupun kecakapan yang diperoleh dari hasil belajar maupun kepribadian (attitude). Bagi sekolah yang input siswanya sudah terseleksi dari awal (saat penerimaan siswa baru) yang kemampuannya sudah terukur tentunya hal ini dapat dijadikan sebagi modal dasar bagi keberhasilan pelaksanaan KBK, tetapi beda halnya dengan sekolah yang input siswanya memiliki kemampuan yang beragam cendrung dominan berada pada tingkat kemampuan rendah. Perihal kemampuan siswa sangat menentukan bagi pelaksanaan Kurikulum berbasis kompetensi mengingat dilakukannya perubahan strategi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan dan metode yang variatif, yang diutamakan adalah siswa diharapkan lebih aktif, menggeser “teaching menjadi “learning”, guru sebagai pemberi informasi digeser hanya menjadi faselitator. Sehingga bila siswa kesulitan dalam menterjemahkan dan melaksankan tugas-tugas yang diberikan oleh guru tentunya dapat mempengaruhi terhadap proses dan hasil dari pelaksanaan KBK itu sendiri.

4. Faktor fasilitas

Ketersediaan fasilitas pembelajaran di sekolah mutlak harus ada dalam mendukung proses pembelajaran agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini faktor fasilitas yang dimaksud meliputi gedung, perabot, alat dan bahan. Namun kenyataan masih banyak sekolah yang belum memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang lengkap seperti ruang kelas, ruang laboratorium, ruang multi media, buku-buku pelajaran dan referensi untuk pegangan guru atau siswa, alat dan bahan praktikum, dan fasilitas pendukung pendidikan lainnya. Dengan segala keterbatasan sekolah dalam memiliki segala bentuk fasilitas belajar tentunya sangat sulit bagi sekolah tersebut dalam mengoptimalkan bagi keberhasilan belajar siswa, karena kenyataannya dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi guru kurang dapat menerapkan metode belajar yang variatif, dan kurang dapat memberikan pengalaman belajar bagi siswa sesuai dengan tujuan kompetensi yang ingin dicapai.

5. Faktor penilaian/pengujian hasil belajar siswa

Penilaian hasil belajar siswa khususnya ujian nasional (UN) yang selama ini masih diberlakukan mengaturannya sangat sentralistik (sepenuhnya diatur oleh pusat), sehingga sistim penilaian semacam ini sangat mempengaruhi proses pembelajaran di kelas, karena guru melaksanakan proses pembelajaran hanya berorientasi pada materi pelajaran, semata-mata hanya untuk memperoleh nilai tinggi pada mata pelajaran yang di UN kan. Padahal, kurikulum berbasis kompetensi menghendaki penilaian yang meliputi aspek kognitif, afektip dan psikomotorik.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: